Tema 2: Bismillah

oleh Iswan Muhammad Isa

Salah satu cara, metode, atau wasilah dalam memahami bentuk, pola, mekanisme, serta kualitas hubungan antara Allah, alam, dan manusia dapat kita mulai melalui konsep Basmalah yaitu:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

Argumen yang dapat kita jadikan landasan mengapa kita memilih Basmalah adalah:

  1. Kalimat Basmalah pertama kali ditulis dalam mushaf al-Qur’an adalah Basmalah sebagaimana surat al-Fatihah.
  2. Hadits Nabi ﷺ menyatakan:

  كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan Bismillah, maka ia terputus.”

Dalam Basmalah, unsur-unsur pembentuk terdiri dari:

  • Bi (بِ)
  • Ism (ٱسْمِ)
  • Allah (ٱللَّهِ)
  • Ar-Rahmān (ٱلرَّحْمَـٰنِ)
  • Ar-Rahīm (ٱلرَّحِيمِ)

Kata Bi (بِ) mengandung makna adanya kesatuan dalam hubungan antara dua entitas atau lebih secara bersamaan. Dalam terjemahan, kita sebut “dengan,”. Kata Bi (بِ) ini berbeda makna dengan kata ma‘a (مع), kata ma‘a (مع) mengandung makna “kebersamaan” yang terpisah antara 2 entitas atau lebih.

Untuk mempermudah pemahaman kita contohkan dalam kalimat:

  • Saya ke pasar dengan mobil (menggunakan ‘bi’)
  • Saya ke pasar bersama istri (menggunakan ‘ma‘a’)

Kalimat pertama saya dan mobil berada dalam satu kesatuan sedangkan pada kalimat kedua saya dan istri saya tidak dalam satu kesatuan fisik.

Dalam Bahasa Arab, asma’ (أسماء) bermakna tanda, simbol, atau bekas. Artinya, asma’ bukanlah realitas, tetapi representasi dari realitas, tanda-tanda yang merujuk pada realitas. Oleh sebab itu, asma’ juga diartikan dengan “nama” yang menunjuk pada subjek atau objek. Misalnya nama ‘Amat’. Maka kata ‘Amat’ (baik suara atau tulisan) adalah simbol atau tanda yang menunjuk pada objek atau subjek fisik dari Amat.

Kata asma’ berasal dari akar kata wasima (وَسِمَ) yang berarti bekas yang ditinggalkan atau fenomena yang dapat diamati yang dalam al-Qur’an disebut al-Ayat. Oleh sebab itu orang yang memahami al-Ayat/tanda disebut sebagai “mutawassimin”:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِينَ

“yang demikian itu adalah ayat-ayat tanda-tanda bagi orang yang memahami tanda.” (Al-Ḥijr: 75)

Di mana saja terdapat ‘asma’ atau ‘ayat’ yang bisa kita amati? Yakni di seluruh alam semesta:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ﴿٢٠﴾وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ﴿٢١﴾

“Di bumi itu terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 20–21)

Sampai di sini, dapat kita pahami bahwa ucapan dengan kata “Bismi” (dengan asma’) adalah pernyataan bahwa dalam setiap pemikiran, tindakan, dan penilaian yang kita lakukan seharusnya berada atau merupakan satu kesatuan kerangka asma’/simbol, bukan di luar asma’/simbol. Asma’/simbol apa/siapa? Tentu dengan simbol/asma’ Allah. Apa atau siapa Allah? Bagaimana memahaminya?

Kata (اللَّهُ) adalah sebuah asma’/simbol/tanda yang bersifat unik. Sebagai simbol atau asma’, maka kata (اللَّهُ) itu sendiri adalah representasi dari sebuah realitas yang entitasnya diwakili dengan asma’ atau simbol (اللَّهُ). Realitas yang sebenarnya, dalam al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

Ahad (أَحَدٌ) adalah entitas abstrak yang keberadaan-Nya hanya bisa diketahui melalui simbol-simbol/ayat yang kehadirannya dapat kita rasakan, kita amati, dan kita pahami.

Contoh entitas abstrak: misalnya, hari Minggu, yang merupakan salah satu nama hari. Aktivitas kita tentu berbeda dengan hari-hari lainnya. pada hari Minggu kita santai, rekreasi, dan lainnya. Tapi apakah keberadaan hari Minggu yang mempengaruhi aktivitas kita dapat kita lihat secara wujud? Tentu tidak. Hari Minggu sama dengan hari lainnya yang memiliki siklus 24 jam. Ia hanya bisa kita abstraksikan atau dapat kita rasakan, kita amati dari simbol, tanda atau kegiatan lainnya. Ia (minggu) tidak menjadi seperti benda-benda material/sesuatu. Itulah contoh pemahaman kita tentang entitas abstrak.

Demikian juga dengan “Ahad”. Ia adalah entitas abstrak dan oleh sebab itu:

  • Tidak sama dengan sesuatu.
  • Tidak bisa disifatkan.
  • Hanya bisa dikenali dan dipahami melalui simbol/asma/tanda/ayat.
  • Keseluruhan simbol-simbol inilah yang disebut (اللَّهُ) yang merupakan representasi dari realitas mutlak Ahad.

Simbol/Asma/tanda/ayat inilah yang terdapat pada seluruh alam semesta dan pada diri kita sebagai manusia dimana kita diperintahkan untuk me-yaqin-i melalui bashar (بصر) dalam setiap pemikiran, tindakan dan penilaian yang kita lakukan dalam hidup dan kehidupan.

Dengan demikian, ketika kita menyatakan/membaca bismillah (بِسْمِ اللَّهِ) dalam memulai segala aktivitas haruslah merupakan representasi dari asma/simbol dari realitas wujud Ahad yang disebut Allah. Dari sinilah kita memahami mengapa Allah disebut “Asma Jalalah” karena kata Allah mewakili seluruh asma’ yang ada.

Secara umum/garis besarnya, “Asma Jalalah” terbagi dari dua jenis yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim.

Jadi, ketika kita menyebut/ menyatakan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ maksudnya adalah agar kita selalu berada dan tunduk/taat kepada konsep-konsep ar-Rahman dan ar-Rahim. Argumen ini didasarkan pada surah al-A’raf: 180.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Allah memiliki asmaul husna, maka ber-doa-lah kepada-Nya melalui (asma’) itu. Dan jangan hiraukan orang-orang yang menyimpang dari Asma’-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap yang dilakukannya.”

Kesimpulan awal, jika Allah:

  • Adalah simbol yang fenomena/ayatnya terdapat pada seluruh alam semesta dan manusia (lihat adz-Dzariyat: 20–21)
  • jika ayat-ayat-Nya tidak ada yang cacat, bengkok, atau bertentangan (lihat an-Nisa: 82)
  • Jika rancangan-Nya sangat sempurna (lihat at-Tin: 4) dengan memiliki potensi kesadaran dll.

Maka, Allah bukan sosok, wujud, atau oknum, tetapi Ahad yang memiliki kesadaran universal puncak di alam semesta ini yang tidak tunduk pada ruang dan waktu.

4 Comments

  1. Ini sangat dalam, dan ini sangat fundamental harus pelan pelan saya membacanya dan memahaminya, agar tidak salah dalam pemahaman, semoga saya mampu memahaminya…

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *