Tema 1: Agama (Ad-Din) & Pemikiran Agama (Al-Millah)

oleh Iswan Muhammad Isa

Sejak dimulainya kehidupan manusia dalam berpikir, bertindak, dan menilai segala hal yang berkaitan dengan Tuhan, alam, dan dirinya sendiri, manusia terus mencari bentuk dan kualitas hubungan yang terbentuk di antara ketiga entitas tersebut.

Pencarian ini berlangsung dari tahap paling dasar atau primitif hingga tahap paling modern, baik melalui sumber yang kita sebut agama maupun melalui sumber lain berupa pemikiran manusia itu sendiri, yang dikenal sebagai pemikiran agama.

Dalam konteks agama dan pemikiran agama, berdasarkan wahyu (kitab suci), kita mengenal dua istilah penting sebagai pelajaran berikutnya. Kata agama dalam Al-Qur’an disebut dengan Ad-Dīn (ٱلدِّينَ), sedangkan pemikiran agama dikenal dengan istilah al-Millah (ٱلْمِلَّةَ). Keduanya sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata yang sama, yaitu agama.

Mari kita lihat kata ad-Dīn dalam ayat berikut:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan Dien-mu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai Din-mu.” (Al-Mā’idah: 3)

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari selain Din Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima darinya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Kata أَكْمَلْتُ (“Aku sempurnakan”) pada ayat di atas merujuk pada hasil dari sebuah proses panjang berupa pemikiran, tindakan, dan penilaian terhadap sesuatu. Dengan demikian, kata ad-Dīn (ٱلدِّينَ) secara Qur’ani lebih tepat dimaknai sebagai cara hidup bagi manusia, bukan sekadar agama yang sejajar dengan istilah religion. Oleh karena itu ditegaskan: barang siapa yang mencari cara hidup selain Islam, maka tidak akan diterima di akhirat, dan ia termasuk orang yang rugi.

Dari penjelasan ini, cara hidup yang diinformasikan Allah tidak hanya berlaku di dunia, tetapi juga mencakup konsekuensi logisnya, yakni cara hidup di akhirat. Hal ini dapat kita lihat pada surah al-Fātiḥah dan surah al-Kāfirūn.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Jadi, Allah melalui wahyu hanya menginformasikan satu cara hidup (ad-Dīn), yaitu ad-Dīn al-Islām. Oleh sebab itu, kita tidak menemukan penyebutan ad-Dīn lain dalam al-Qur’an, seperti ad-Dīn Yahudi, Nasrani, dan sebagainya. Adapun “agama” lain yang kita kenal saat ini sesungguhnya adalah al-Millah, bukan ad-Dīn.

Kata al-Millah (ٱلْمِلَّةَ) merujuk pada pemikiran, tindakan, dan penilaian yang bersumber dari pemikiran bebas manusia. Pemikiran bebas manusia bisa salah atau benar. Jika benar dan tidak bertentangan dengan wahyu, maka kita diperintahkan untuk, atau dibolehkan, mengikutinya.

Ali Imran: 95

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

An-Nahl: 123

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ 

Contoh ayat tentang Millah yang tidak sesuai:

مَا سَمِعْنَا بِهَـٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَـٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ

“Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam al-Millah yang terakhir; ini tidak lain hanyalah Ikhtilaf/diada-adakan.” (Shad: 7)

Selain itu, terdapat kata syarī‘ah (ٱلشَّرِيعَةَ). Kata ini berasal dari akar kata syara‘a (شَرَعَ) yang bermakna aturan atau tata cara dalam melaksanakan ad-Dīn.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ

“Allah telah mensyariatkan bagi kalian tentang ad-Dīen, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), serta yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah ad-Dīen dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya. (Asy-Syura: 13)

Jadi, ad-Dīn al-Islām adalah cara berpikir, bertindak, dan menilai berdasarkan ad-Dīn al-Islām, yang dimulai sejak Nabi Nuh hingga disempurnakan pada masa Nabi Muhammad ﷺ.

Dengan demikian, dapat kita bedakan bahwa dalam hidup dan kehidupan ini terdapat:

  1. Ad-Dīn (ٱلدِّينَ) → bersumber dari Allah.
  2. Al-Millah (ٱلْمِلَّةَ) → bersumber dari pemikiran manusia.

Al-Millah inilah yang terus tumbuh, berkembang, dan berubah sepanjang sejarah manusia, melahirkan berbagai peradaban, keyakinan, aliran, bahkan pertengkaran dan peperangan sebagaimana kita saksikan hingga hari ini.

Permasalahan muncul ketika al-Millah tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan ad-Dīn, baik dalam pemikiran, tindakan, maupun penilaian manusia dalam kehidupan. Ketidaksesuaian ini akan terus berlangsung, bahkan semakin meningkat intensitasnya pada masa kini. Kasus pernyataan Menteri Agama Yaqut, perdebatan Aswaja-Salafi, atau perbedaan Sunni-Syiah merupakan contoh nyata yang dapat kita cermati.

Bagaimana menyikapinya?

Kita tidak akan mampu mengambil sikap yang netral dan rasional tanpa memiliki bekal pengetahuan dasar tentang ad-Dīn yang disampaikan Allah. Karena itu, kita perlu menguji diri dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah yang kita pikirkan sudah sesuai dengan apa yang dimaksud Allah?
  • Apakah tindakan yang kita lakukan telah mendekati apa yang dikehendaki Allah?
  • Apakah penilaian, keyakinan, atau sikap yang kita pilih di antara berbagai faham dan ajaran sudah sesuai, atau setidaknya tidak bertentangan, dengan apa yang ditunjukkan Allah?

Dalam tema selanjutnya, kita akan membahas bagaimana bentuk, pola, dan kualitas hubungan antara Allah, Alam, dan manusia beserta segala implikasinya berdasarkan ad-Dīn yang diturunkan Allah.

2 Comments

  1. Terimakasih guru untuk materi yang sudah dibagikan ini. Sehat selalu. Aamiin

  2. Terima kasih guru untuk materinya…..
    Sehat sehat selalu guru …🙏🙏

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *