Tema 35: Kitab Maknun

oleh Iswan Muhammad Isa

Kita telah memahami konsep al-Kitab secara keseluruhan, di mana di dalamnya terdapat:

  • Lauh Mahfudz yang berisi Qur’an Majid,
  • Ummul Kitab sebagai pusat gerak material, dan
  • Imam Mubin sebagai “sistem pusat data” yang mendata seluruh kejadian atau momen dalam alam semesta, baik akibat aktivitas sadar manusia maupun yang berasal dari luar kesadaran manusia.

Konsep dan sistem al-Kitab inilah yang “ingin” disampaikan Allah sebagai representasi dari Ahad dan Wahid. Karena dalam sistem al-Kitab tidak terdapat bahasa, maka konsep dan sistem ini harus diubah terlebih dahulu melalui proses yang dikenal dengan al-Inzal.

Catatan: al-Inzal adalah proses peralihan dari wilayah yang tidak dapat dipahami manusia menjadi sesuatu yang dapat dipahami manusia. Proses menjadikan sesuatu bisa dipahami inilah yang disebut dengan istilah al-Ja‘al (الجَعَلَ).

Dengan demikian, yang mengalami proses al-Inzal adalah Qur’an Majid yang ada di Lauh Mahfudz (disebut sebagai al-Qur’an), serta Ummul Kitab beserta Imam Mubin (disebut sebagai al-Kitab).

Proses al-Inzal pada al-Qur’an (Qur’an Majid) dan proses al-Inzal pada al-Kitab (Ummul Kitab dan Imam Mubin) ini berlangsung bersamaan dengan proses al-Ja‘al.

حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ 

“Ha Mim. Demi Kitab Mubin, sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai Qur’anan Arabiyyan agar kamu dapat menggunakan akal. Dan sesungguhnya (Sistem Kitab Mubin) itu ada di dalam Ummul Kitab di sisi Kami, yang tinggi dan penuh hikmah.” (Az-Zukhruf: 1-4)

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ 

“Alif Lam Ra, itulah ayat-ayat Kitab Mubin, sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur’anan Arabiyyan agar kamu dapat menggunakan Akal. Kami menceritakan kepadamu dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (Yusuf: 1-3)

Wilayah yang dapat dipahami manusia ini disebut dengan Kitab Maknun, yaitu ketika Qur’an Majid telah dijadikan Qur’ānan ‘Arabiyyan yang kemudian disebut sebagai Qur’an Karim.

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ 

“Maka bertasbihlah dengan asma Tuhanmu yang besar, maka Aku bersumpah demi tempat turunnya “bintang”, sesungguhnya Sumpah itu Sumpah yang besar jika kamu tahu sesungguhnya  (yang turun itu) Qur’an Karim dalam Kitab Maknun. Tidak tersentuh kecuali yang disucikan.” (Al-Waqi’ah: 74-80)

Az-Zukhruf: 1–4 menjelaskan bahwa al-Kitab dijadikan dalam bentuk Qur’ānan ‘Arabiyyan agar manusia dapat menggunakan akalnya. Sistem Kitab Mubin itu terdapat dalam Ummul Kitab di sisi Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana (لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ).

Yusuf: 1–3 menjelaskan bahwa al-Qur’an dalam bentuk ayat-ayat Kitab Mubin (aktivitas sadar manusia berupa ayat dan kalimat) disajikan dalam tema kisah-kisah, yang sebelumnya tidak diketahui Nabi.

Baik al-Qur’an (Lauh Mahfudz / Qur’an Majid) maupun al-Kitab (Ummul Kitab / Imam Mubin) dijadikan Qur’ānan ‘Arabiyyan. Walaupun wahyu “meminjam” bahasa Arab, tetapi Qur’ānan ‘Arabiyyan bukanlah bahasa Arab sehari-hari.

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۖ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka mengatakan: “Sesungguhnya yang memberi tahunya orang cerdas/pintar. Lisan yang mereka tuduhkan itu A’jamiyyun  dan ini  adalah Lisan Arabiyyan Mubin.” (An-Nahl: 103)

Jadi, Qur’ānan ‘Arabiyyan adalah bacaan asli yang nyata agar manusia dapat menggunakan akalnya.

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ

“Dan tidaklah Qur’an/bacaan ini diada-adakan selain dari Allah.” (Yunus: 37)

Di sinilah letak perbedaan antara bahasa Qur’an dan bahasa Hadis. Bahasa Qur’an adalah bahasa asli dari Tuhan, sedangkan bahasa Hadis adalah bahasa yang berasal dari manusia yang dipengaruhi oleh kehendak, keinginan, dan kepentingan. Oleh sebab itu, kita perlu mempelajari dan memahami istilah-istilah kunci dari al-Qur’an, karena bahasa Arab sehari-hari tidak sepenuhnya dapat menjangkau bahasa Qur’an Arabiyyan.

Kata مَّكْنُون berasal dari huruf ك ن ن yang bermakna terpelihara atau tersembunyi.

كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُونٌ

“Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan/tersembunyi dengan baik.” (As-Shaffat: 49)

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ

“Dan berkeliling disekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan/terjaga” (At-Thur: 24)

Catatan:
Perlu dibedakan antara istilah kanon (قَانُوْن) yang berarti undang-undang atau aturan, yang berfungsi mengatur untuk mencukupi (qaḍā / قَضَى).

Dalam al-Waqi‘ah: 74 disebutkan:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Kita juga membaca: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.

Terdapat perbedaan antara بِاسْمِ dan ِبِسْم (tanpa alif):

  • بِاسْمِ: Merujuk pada pernyataan Allah yang memiliki sistem simbol dalam bentuk asma (Al-Isra’: 180).
  • ِبِسْم: Merujuk pada pernyataan manusia yang berada dan tunduk dalam sistem simbol.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *